Ini 4 Komplikasi Kehamilan yang Paling Sering Terjadi 

  • Post by Diary Bunda
  • Oct 05, 2020

Ini 4 Komplikasi Kehamilan yang Paling Sering Terjadi 


Ditinjau oleh: dr. Linda Lestari, Sp.OG

Meski mayoritas kehamilan berlangsung dengan lancar, terkadang komplikasi bisa terjadi. Berikut beberapa komplikasi kehamilan yang sering dialami perempuan hamil. 

Gestational diabetes 

Diabetes gestasional atau Gestational diabetes mellitus (GDM) adalah sebuah tipe diabetes yang terjadi saat hamil. Perubahan hormon selama kehamilan menyebabkan tubuh tidak memproduksi insulin yang cukup, atau insulin yang diproduksi tidak mampu membuat glukosa masuk ke sel diakibatkan sel sel mengalami resistensi in sulin. Glukosa yang tak dapat masuk ke sel bertumpuk di pembuluh darah sehingga menyebabkan diabetes. 

GDM terjadi pada perempuan yang tidak memiliki kondisi diabetes sebelum kehamilan. 

Salah satu risiko dari GDM adalah bayi tumbuh lebih besar daripada ukuran normal, kondisi ini disebut makrosomia. Pada saat proses kelahiran, bahu bayi bisa menghalangi keluarnya bayi. Jika bayi terlalu besar untuk dilahirkan dengan cara vaginal, biasanya dokter akan merekomendasikan operasi caesar. 

Selain itu, GDM juga meningkatkan risiko preeklampsia, risiko bayi lahir dengan gula darah rendah, masalah pernafasan, penyakit kuning, bahkan risiko diabetes tipe 2 saat bayi sudah besar. 

Gejala: Biasanya, tidak ada tanda yang terlihat dengan jelas. Dokter akan mengecek GDM di antara minggu 24 dan 28 kehamilan. Atau lebih awal jika ibu memiliki risiko yang lebih tinggi, misalnya karena kelebihan berat badan atau memiliki sejarah GDM di kehamilan sebelumnya. 

Pengobatan: Dokter biasanya akan menyarankan ibu hamil untuk memiliki pola makan sehat dan berolahraga. Namun, beberapa perempuan mungkin membutuhkan obat-obatan atau bahkan insulin untuk mengontrol level gula darah. 

Pencegahan: Mengurangi berat badan sebelum hamil, mengonsumsi makanan sehat dan olahraga secara teratur bisa menurunkan risiko mengalami GDM. 

Preeklampsia

Preeklampsia atau disebut juga toxemia, adalah sebuah kondisi serius yang menyebabkan tekanan darah tinggi yang berbahaya. Kondisi ini terjadi setelah minggu ke-20 pertama kehamilan, dan biasanya dialami oleh perempuan yang tidak memiliki kondisi tekanan darah tinggi. 

Beberapa faktor yang bisa memicu preeklampsia di antaranya:

  • - Kehamilan pertama

  • - Preeklampsia terjadi di kehamilan sebelumnya

  • - Kondisi kesehatan yang sudah ada seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit ginjal dan lupus eritematosus sistemik

  • - Ibu hamil berusia remaja, atau 35 tahun atau lebih 

  • - Memiliki dua janin atau lebih

  • - Obesitas

Gejala: Beberapa gejala yang dialami bisa berupa sakit kepala yang parah, penglihatan terganggu dan rasa sakit di bawah tulang rusuk. Meski begitu, banyak perempuan tidak merasakan gejala-gejala ini di awal kondisi. Pertanda pertama biasanya berupa tekanan darah tinggi yang terlihat pada saat ibu datang untuk konsultasi kehamilan.  

Pengobatan: Kondisi hanya bisa diatasi ketika bayi dilahirkan, jadi persalinan adalah cara terbaik untuk mengobati preeklampsia. Meski begitu, melahirkan bayi terlalu cepat bisa membahayakan kesehatan si bayi. Langkah apa yang diambil biasanya tergantung pada umur kehamilan; dokter mungkin akan melakukan kelahiran induksi jika umur kehamilan 37 sampai 40 minggu. Atau, ibu mungkin perlu dirawat di rumah sakit sehingga bisa dimonitor oleh dokter dengan seksama. 

Pencegahan: Meski preeklampsia tidak bisa dicegah, tetap menjaga kesehatan selama hamil adalah langkah terbaik. Jika Anda memiliki risiko mengalami ini, diskusikan hal ini dengan dokter sebelum atau pada awal kehamilan untuk menemukan langkah-langkah mengurangi kemungkinan preeklampsia. 

Plasenta Previa

Saat hamil, plasenta menyediakan oksigen dan nutrisi untuk bayi agar berkembang optimal. Plasenta biasanya menempel pada bagian atas rahim. Namun dalam kondisi plasenta previa, plasenta bisa seutuhnya atau sebagian menutupi serviks, yakni struktur yang menghubungkan mulut rahim dengan vagina.

Perempuan dengan luka pada bagian rahim dari kehamilan sebelumnya atau karena operasi rahim memiliki risiko lebih tinggi mengalami plasenta previa. Begitu pula jika Anda memiliki fibroid. 

Gejala: Gejala utama adalah perdarahan vaginal yang tidak disertai kram atau rasa nyeri lainnya. Meski begitu sebagian perempuan yang mengalami kondisi ini tidak merasakan gejala apapun. Dokter akan mengonfirmasinya setelah melakukan ultrasound atau pengecekan fisik. 

Pengobatan: Plasenta previa bisa menyebabkan perdarahan selama kehamilan. Akan tetapi, ada juga ibu yang tidak mengalami perdarahan, hanya bercak-bercak. Jika perdarahannya parah, Anda mungkin akan diminta untuk dirawat di rumah sakit. Perempuan yang mengalami kondisi ini akan menjalani operasi caesar untuk melahirkan bayi, yang biasanya dijadwalkan dua sampai empat minggu sebelum tanggal kelahiran. 

Pencegahan: Tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk mencegah plasenta previa. Meski begitu, Anda bisa menjaga kesehatan diri dan bayi dengan melakukan perawatan prenatal secara rutin. Jika Anda termasuk dalam kelompok yang berisiko tinggi mengalami kondisi, pastikan untuk memberitahu dokter agar Anda dimonitor selama kehamilan.

Keguguran

Keguguran adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegagalan kehamilan  sebelum berumur 20 minggu. Hampir 15 persen kehamilan berakhir dengan keguguran, dan biasanya disebabkan oleh faktor genetik atau kelainan kromosom. Keguguran sering kali terjadi bahkan ketika seorang perempuan belum menyadari bahwa dirinya hamil. 

Kehilangan janin (fetal loss) di trimester kedua bisa terjadi jika serviks lemah atau membuka terlalu cepat. Kondisi ini disebut inkompetensi serviks. Dalam beberapa kasus, dokter bisa mencegah keguguran dengan menjahit rapat serviks sampai hari kelahiran tiba. 

Gejala: Bercak vaginal atau perdarahan, kram, atau cairan atau jaringan keluar dari vagina. Meski begitu, perdarahan dalam vagina belum tentu berarti keguguran akan atau sedang terjadi. Jika Anda mengalami gejala ini, segera hubungi dokter. 

Pengobatan: Biasanya, janin dan isi rahim akan luruh secara alami. Akan tetapi jika ini tidak terjadi, seorang perempuan mungkin akan menjalani sebuah prosedur yang disebut Dilatasi dan Kuretase (D & C). Ada baiknya Anda menjalani konseling setelah mengalami keguguran untuk membantu kesedihan mendalam yang dirasakan. 

Pencegahan: Pada sebagian besar kasus, keguguran tidak bisa dicegah. 

Beberapa Hal yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Komplikasi

Meski sebagian besar komplikasi tidak bisa dicegah, ada hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kesehatan kehamilan. Di antaranya: 

  • - Berkonsultasilah kepada dokter sebelum hamil untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Misalnya, jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu, dokter akan merekomendasikan beberapa penyesuaian untuk menjaga kesehatan kehamilan. 

  • - Miliki pola makan yang sehat, perbanyak makan buah, sayur, protein tanpa lemak, dan serat. 

  • - Hadiri semua sesi konsultasi pra kehamilan, termasuk dengan spesialis jika dokter merekomendasikannya. 

  • - Berhenti merokok.

  • - Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang.

  • - Jaga berat badan sehat. 

  • - Konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat atau suplemen apapun. 

  • - Kurangi stres. Lakukan hal-hal yang menyenangkan dan aktivitas relaks untuk mengurangi stres.



Sumber: 

Womenshealth.gov, 2019, Pregnancy complications
Nichd.nih.gov, 2017, What are some common complications of pregnancy?
Johns Hopkins Medicine, Complications of Pregnancy
Johns Hopkins Medicine, 4 Common Pregnancy Complications
Healthline.com, 2016, Complications During Pregnancy and Delivery

LATEST POST
  • Post By Diary Bunda
  • Mar 19, 2019
dr. Cepi Teguh Pramayadi, Sp. OG
  • Post By Diary Bunda
  • Mar 19, 2019
dr. Fatimah Hidayati, Sp.A
  • Post By Diary Bunda
  • Mar 19, 2019
dr. Linda Lestari, Sp.OG